Senin, 06 Januari 2020

Routing

Nama: Muhamad Febriansyah
Kelas:11-TKJ 2
No:21

Perutean (bahasa Inggris: routing) adalah sebuah proses untuk meneruskan paket-paket jaringan dari satu jaringan ke jaringan lainnya melalui sebuah antar-jaringan (internetwork). Perutean juga dapat merujuk kepada sebuah metode penggabungan beberapa jaringan sehingga paket-paket data dapat dialirhantarkan dari satu jaringan ke jaringan selanjutnya. Untuk melakukan hal ini, digunakanlah sebuah perangkat jaringan yang disebut sebagai perute. Perute-perute tersebut akan menerima paket-paket yang ditujukan ke jaringan di luar jaringan yang pertama, dan akan meneruskan paket yang diterima kepada perute lainnya hingga sampai kepada tujuannya.

1.Perutean statis adalah bentuk perutean yang terjadi ketika perute menggunakan entri perutean yang dikonfigurasi secara manual, bukan informasi dari lalu lintas perutean dinamis.
Perutean statis mungkin memiliki kegunaan berikut:

Perutean statis dapat digunakan untuk menentukan titik keluar dari perute ketika tidak ada rute lain yang tersedia atau diperlukan. Ini disebut rute baku.
Perutean statis dapat digunakan untuk jaringan kecil yang hanya membutuhkan satu atau dua rute. Ini sering lebih efisien karena tautan tidak disia-siakan dengan bertukar informasi perutean dinamis.
memiliki keuntungan sebagai berikut:
Perutean statis menyebabkan sangat sedikit beban pada CPU perute, dan tidak menghasilkan trafik ke perute lain.
Perutean statis membuat administrator jaringan memiliki kontrol penuh atas perilaku perutean jaringan.
Perutean statis dapat memiliki beberapa kelemahan potensial:

Kesalahan manusia: Dalam banyak kasus, rute statis dikonfigurasikan secara manual. Ini meningkatkan potensi kesalahan input. Administrator dapat membuat kesalahan dan salah ketik dalam informasi jaringan, atau mengonfigurasi jalur perutean yang salah secara tidak sengaja.
Toleransi kesalahan: Perutean statis bukan toleran terhadap kesalahan. Ini berarti bahwa ketika ada perubahan dalam jaringan atau terjadi kegagalan antara dua perangkat yang ditentukan secara statis, lalu lintas tidak akan diarahkan kembali. Akibatnya, jaringan tidak dapat digunakan hingga kegagalan diperbaiki atau rute statis dikonfigurasi ulang secara manual oleh administrator.
Contoh: Linux Sunting
Di sebagian besar distribusi Linux, rute statis dapat ditambahkan menggunakan perintah iproute2. Berikut ini diketik di terminal: - [5]

root@router:~# ip route add 10.10.20.0 via 192.168.100.1
2.Perutean dinamis, juga disebut perutean adaptif,[1][2] adalah proses di mana perute dapat meneruskan data melalui rute yang berbeda atau tujuan yang diberikan berdasarkan pada kondisi saat ini dari sirkuit komunikasi dalam suatu sistem.
Ada beberapa protokol yang dapat digunakan untuk perutean dinamis. Routing Information Protocol (RIP) adalah protokol perutean vektor jarak yang mencegah perutean berulang-ulang dengan menerapkan batas jumlah hop yang diizinkan dalam jalur dari sumber ke tujuan.


Route Decision
Sebagai contoh dibawah ini ada sebuah tabel yang berisi beberapa rule routing dengan multiple gateway. Misal, dari tabel tersebut apabila kita ingin menuju ke sebuah perangkat sever dengan IP Address 192.168.0.2. Nah, rule routing mana yang akan diprioritaskan?
Ada beberapa mekanisme bagaimana router memilih jalur routing yaitu antara lain sebaga berikut.
  • Rule routing yang paling spesifik (Misal, 192.168.1.128/26 lebih spesifik dari 192.168.1.1/24).
  • Distance (Router akan memilih nilai distance yang paling kecil).
  • Round Robin (Random. Apabila Rule tersebut sama-sama spesifik dan memiliki nilai distance yang sama. Biasa disebut sebagai Load Balance).
Jadi, apabila melihat contoh tabel diatas bisa dihasilkan prioritas seperti tampilan berikut:
Kembali pada sontoh kasus sebelumnya, dengan memiliki beberapa gateway untuk sebuah destination (tujuan) kita bisa melakukan sebuah mekanisme jalur backup. Hal ini lebih dikenal dengan istilah Failover. Untuk melakukan failover kita bisa memanfaatkan pengaturan pada nilai distance.
Distance
Seperti yang telah disinggung pada contoh tabel sebelumnya, dengan distance ini kita bisa menentukan jalur routing mana yang menjadi prioritas dan yang menjadi sebuah jalur backup. Secara default nilai distance pada MikroTik dari 0 (Nol) - 8 (Delapan). Semakin kecil nilai distance maka rule tersebut akan semakin diprioritaskan.
Nah, oleh karena itu kita harus memberikan nilai distance yang kecil untuk jalur utama dan apabila jalur utama putus maka secara otomatis akan memakai jalur lain dengan nilai distance yang lebih besar.
Check Gateway
Supaya dapat menjalankan failover dengan baik selain konfigurasi nilai distance, kita juga akan mengatur parameter Check Gateway.
Mekanisme pengecekan gateway ini akan menggunakan ARP Request atau Test Ping yang akan dikirimakan setiap 10 detik. Sebuah link akan dianggap sebagai "Gateway Time-Out" apabila tidak menerima respon selama kurang lebih 10 detik dari mesin gateway. Dan akan dianggap "Unreachable" jika terjadi 3 kali gateway time-out secara berurutan.
Scope & Target Scope
Contoh diatas apabila link yang putus adalah link yang terhubung langsung dengan router gateway. Namun, bagaimana jika kasusnya adalah apabila yang putus adalah diatas router gateway yang tidak terhubung langsung (Recursive). Apabila ita melihat mekanisme pengecekan gateway sebelumnya yang memakai metode ARP Request dan Test ping akan mengecek jalur yang ke router gateway sehingga tidak bisa melakukan pengecekan pada jalur diatasnya.
Untuk mengatasi hal tersebut kita bisa menggunakan parameter "Scope & Target Scope" pada konfigurasi routing. Secara default router akan memberikan niali dari scope dan target scope untuk masing-masing type routing yang nilainya juga berbeda.
Berkaitan dengan masalah diatas kita bsa mengubah nilai dari "Target Scope" sehingga pengecekan gateway akan langsung ke jalur yang diatas router gateway, walaupun secara real trafik masih tetap melewati router gateway tersebut. Sebagai contoh seperti tampilan berikut:
 
Seperti pada gambar diatas, untuk rule routing dengan flag "AS" secara default akan memakai nilai target scope yaitu 10. Akan tetapi kita bisa mengubahnya menjadi '30'. Hal ini berarti apabila target scope memakai nilai '10' maka untuk pengecekan jalur selanjutnya akan melihat rule routing dengan nilai scope '10'. Dan apabila kita merubah nilai target scope menjadi '30' maka untuk pengecekan selanjutnya akan melihat rule routing dengan nilai scope '30'. Sehingga untuk penulisan gateway bisa langsung kita arahkan/isikan dengan IP Address yang berada diatas router gateway.
Route Policy
Selain Failover kita bisa menggunakan fungsi routing untuk memetakan koneksi secara sederhana. Misal, kita mempunyai 2 gateway untuk ke internet. Namun, kita akan membuat 2 jalur tersebut untuk jaringan LAN yang berbeda segment dan masing LAN akan memiliki jalur sendiri. Katakanlah ada 2 network LAN yaitu 192.168.1.0/24 akan menggunakan link internet jalur 1 dan network LAN 172.16.1.0/24 akan menggunakan link internet jalur 2.
Nah, dengan kebutuhan tersebut kita bisa mengaturnya pada Route Policy. Untuk konfigurasinya kita buat terlebih dahulu route policy untuk kedua LAN tersebut. Masuk pada menu IP -> Routes -> Rules -> Klik Add [+]. Kemudian kita konfigurasi seperti tampilan berikut.
Setelah kita tentukan masing-masing network dengan mengisikan pada parameter table dengan nama yang berbeda, kita akan memasukkannya pada paramtere "Route Mark" untuk masing-masing jalur link ke internet.
Langkah diatas juga sama dilakukan pada jalur link yang lain untuk opsi LAN2. Apabila sudah ditambahkan, maka akan kita dapati 2 link ke internet sama-sama aktif walaupun memiliki nilai distance yang sama. Hal ini disebabkan kita telah menentukan "Routing Mark" dengan masing-masing route policy yang telah kita buat sebelumnya.
Parameter Routing Type
Selain fungsi-fungsi diatas, ada lagi sebuah fungsi routing yang bisa digunakan untuk kebutuhan keamanan jaringan. Kita bisa mengaturnya pada pamarameter Type.
Pada parameter tersebut kita bisa melihat beberapa macam opsi. Untuk fungsi keamanan jaringan kita bisa memilih beberapa parameter berikut:
  • Blackhole (Melakukan blocking secara diam-diam).
  • Prohibit (Melakukan blocking dan mengirimkan pesan error ICMP "Administratively prohibited atau Packet filtered ".
  • Unreachable (Melakukan blocking dan mengirimkan pesan error ICMP "Host Unreachable".
Nah, apabila kita menggunakan ketiga parameter diatas, kita tidak memerlukan untuk mendefinisikan gateway. Misal, jika kita ingin melakukan blocking IP address tujuan tertentu, maka kita hanya mengisi parameter "Dst. Address" dan kita tentukan parameter "type".
Sebagai contoh kita akan melakukan blocking koneksi ke tujuan IP Address 192.168.1.2 dengan type "Prohibit". Sehingga perangkat dengan IP Address tersebut tidak dapat diakses oleh perangkat lain di jaringan lokal kita.